Akhir sebuah Cinta


By : Kang Sum

Kain Putih yang menutupi rambut Chika melambai-lambai tertiup angin saat duduk di serambi masjid al-Hijri UIKA Bogor selepas shalat Dzuhur. Suasana masjid yang sejuk membawa hati dan fikiran terasa tenang dan tentram. Chika tidak langsung beranjak pulang setelah dua mata kuliahnya berakhir, sangat sayang jika dia buru-buru pulang tanpa bercakap-cakap terlebih dahulu dengan teman kuliah barunya, Indri.

Dari dalam masjid sepasang mata misterius tampak memperhatikannya, sosok pemuda dengan sorot mata tajam penuh kesejukan, rambut tertata rapi dengan baju koko putih yang dipakai sangat serasi dengan wajahnya yang bersih bercahaya.

“Hey…, Chika!! Liatin siapa sih loe? serius amat!” Indri mengagetkan Chika yang sedang asyik membalas jauh tatapan sesosok pemuda yang sekilat telah pergi entah kemana.

“Ah elu, In. ngagetin aja! Eh…In, tadi ada Cowok ngelitain gua terus lho… Wah, ganteng banget In, serius!!” Chika membalas dengan ceria dan memainkan kerlingan matanya yang putih.

“Huh, Ge-er aja loe! Sudah ah, kita ngobrolnya di Shelter, sambil nunggu bis Rudi.” Indri mencubit pinggang Chika dan beranjak pergi meninggalkan Chika yang sedang mengaduh kesakitan bercampur geli.

Chika mengikuti Indri, berjalan disampingnya dan saling menceritakan pengalaman hidupnya. Bercerita tentang hal yang tidak pernah diduga oleh manusia, sesuatu yang terkadang luput dalam ingatan, walaupun hanya sekedar untuk diingat.

Hari berlari dalam dekapan sang malam, berkejaran dengan manusia-manusia pencari dunia. Semuanya berjalan seperti hembusan nafas yang datang pergi silih berganti, semua jiwa merangkak mengejar hari yang penuh cinta. Mendamba kebahagian dan keindahan surga. Semua manusia selalu saja disemayamkan benih-benih cinta, merembes kedalam hati menyejukkan jiwa.

Sejak hari itu Chika merasa ada sesuatu yang tersembunyi dalam hatinya, tatapan mata pemuda di masjid membuat dirinya merasa penasaran, siapa gerangan sosok pemuda itu. Tatapan matanya dirasa benar untuk dirinya, bukan untuk orang lain.

“Assalamu’aliakum, maaf mengganggu,” terdengar suara lelaki disamping Chika.

“Wa’alaikum salam, O…, nggak! gak apa-apa kok!!” balas Chika gelagapan saat mengetahui yang menyapanya pemuda yang dua hari lalu terlihat di dalam masjid.

“Kenalkan, saya Pengeran, Mahasiswa fakultas agama islam, semester lima. Kamu Chika kan??!” tanya Pangeran dengan ramah dan senyuman penuh cinta.

“Oia.., Pangeran. Gua Chika! Kok kamu tahu nama gua sih?!”

“Ehmm…, tau aja. Kamu kan peserta ospek terbaik kemarin, siapa sih yang gak kenal perempuan cantik kayak kamu…” Chika tersipu, tubuhnya melayang-layang keatas langit, untung saja atap perpustakaan tidak terlalu tinggi jadi tubuhnya kembali ketempat duduknya semula.

“Kok bengong, kamu ikutan kegiatan apa disini?” Pangeran menyadarkan Chika yang jiwanya sedang berputar-putar diperpustakaan yang sejuk oleh AC bersuhu 16 derajat CC.

“Owh…, gua ya??” Chika sekali lagi kebingungan.

“Ya… iyalah. Masak sih ibu perpus itu…!!” pangeran tertawa kecil sambil melirikkan matanya ke petugas perpus yang mesem-mesem memperhatikan Pangeran dan Chika yang sedang asyik ngobrol di meja baca.

“Saat ini gua belum ikut apa-apa sih. Loe ikutan apa? Mang disini organisasi yang bagus apaan sih??” tanya Chika penuh harap.

“Aku… ikut BEM, LDK sama ASSTI. Disini organisasinya bagus-bagus, tergantung kitanya juga sih, mau dibikin bagus ya… bagus, mau dibikin jelek ya… jelek. Kan organisasi itu bisa dilihat dari orang-orang didalamnya. Saran aku sih kamu ikut ASSTI atau LDK aja.” jelas Pangeran sambil promosi.

“O…, gitu ya. Oke deh tar gua pikir-pikir dulu. Tapi emang gua bisa masuk gitu??” tambah Chika dengan perasaan pesimis,

“Masa perempuan gaul kayak gua bisa ikut organisasi keislaman… tapi, kalau dia yang ngajak? Hmm…, gimana ya?” pikir Chika.

“Why not, dik manis. Kamu bisa ikutan, nanti kita bisa sering ketemu.” jelas Pangeran dengan sedikit merayu dan memberikan harapan.

Percakapan pun terus berlanjut saling bercerita tentang pengalaman hidup, seiring berputarnya jarum jam, seiring hembusan salju yang keluar dari AC, seiring keluar masuknya pengunjung perpus.

“Ok. Chika, gitu aja ya…, aku ada acara lagi nih, Insyaallah kalau ada umur panjang. Nanti disambung lagi. maaf kalau mengganggu.” Pangeran lalu meninggalkan Chika sendirian yang wajahnya berseri merona. Jiwanya merasakan keinginan kuat untuk berlama-lama dengannya. Namun, hanya mampu menatap Pangeran yang setapak demi setapak meninggal gedung perpustakaan.

Haripun kembali berganti. Wajah-wajah manusia berputar menghiasi skenario sang ilahi, merubah hal yang terkadang takut untuk dibayangkan.

Chika terlihat gusar, tatapannya kosong. Jiwanya melayang terbang mengelilingi angkasa raya. Hatinya dipenuhi asa yang entah seperti apa rasanya. Ruang kuliah yang terlihat baru dibangun membuat suasana bersih. Beberapa ruang kelas tampak terisi oleh mahasiswa yang sedang mendengarkan dosennya berceramah. Begitu juga di ruang B, pak Sakti serius menjelaskan materi kuliahnya. Namun, tampaknya Chika yang sedang asyik menatap jauh tidak terlalu memperhatikan penjelasan Pak Sakti.

“Chika! Coba kamu buat jurnal soal nomor 5 sampai 10 ?!!” pak Sakti bertanya setengah berteriak sambil menyodorkan spidol kearah Chika.

“Saya pak??” Chika mengacungkan tangan.

“Iya kamu, dari tadi kamu bengong aja.” tegas pak Sakti, Dosen Pengantar akuntansi yang sedikit sewot karena tidak diperhatikan Chika.

Chika pun beranjak dari tempat duduknya menuju papan tulis dan menggoreskan angka-angka yang tidak jelas.

“Eng… Uh.. maaf pak saya gak bisa,” Chika tertunduk malu setelah berusaha keras mengutak-atik huruf dan angka. Suara gaduh teman-temannya terdengar jelas oleh Chika.

“Ya udah, kamu duduk sana!! Nah, ini contoh kalau kalian tidak memperhatikan pelajaran. Padahal tadi Bapak sudah menjelaskannya dan,” bla… bla… bla… pak Sakti berceramah. Sedangkan Chika hanya terdiam, tubuhnya bercucuran keringat, pipi ayunya memerah dengan bening-bening putih memenuhi mata yang sekilas seperti awan yang hendak turun hujan, berkali-kali pulpen yang dipegangnya jatuh dengan tangan lembut gemetar.

Beberapa hari ini memang Chika terlihat bimbang, kuliahnya tidak dapat konsentrasi lagi. Keceriaan yang dimilikinya berubah drastis. Ingatannya hanya tertuju pada seseorang yang kini bersemayam dihatinya. Seorang kakak kelasnya yang membuat hari-harinya dipenuhi keinginan.

“Chika, lu dikelas kenapa??” tanya Indri sambil mengaduk-aduk mie Ayam yang baru dihidangkan oleh pak Alpa di kantin.

“Gua…, gua lagi punya masalah nih, In.” jawab Chika lalu meminum es teh manis dengan hausnya.

“Loe punya masalah, kok gak bilang-bilang ke gua… emang ada apa sih?” tanya Indri heran

“Loe tau gak, In. Cowok yang suka ngobrol sama gua tempo hari??” serius Chika sambil menatap temannya yang sudah dianggapnya sahabat.

“O…, Pangeran!!. Sebentar gua tebak. Hah!!, jangan… jangan… loe jadian sama dia??” gertak Indri, saking kerasnya nyaris mangkok mienya terbang.

“Dengerin dulu…, berisik amat sih loe!, gua belum jadian, justru sekarang gua inget terus sama dia. Loe tau sendiri dia alim banget, salaman sama gua aja pake jurus jarak jauh. Mana berani gua jadian sama dia. Tapi, In. Terus terang gua jatuh cinta sama dia, please!! Gimana dong??” Chika menjelaskan perasaannya yang terdalam, hatinya sudah dipenuhi oleh bunga-bunga mawar yang hendak menebarkan wanginya. Hatinya sudah terketuk oleh sosok Pangeran yang sholeh dan berwajah ganteng.

“Hmm, gimana ya…?? Kamu mau tahu solusinya??” tawar Indri serius.

“Iya, In. gimana?”

“Hmm, gampang! Tapi, kamu harus sewa nona Indri dulu biar konsultasinya mulus.. he… he…!!” canda Indri sambil nyeruput mienya yang mulai dingin.

“Ah, Elu… becanda terus, Serius nih!!” sambung Chika sedikit kesal.

“Saran gua sih loe bilang terus terang aja sama dia, gua perhatiin dia juga ada perhatian sama loe.” balas Indri dengan mimik serius.

“Yang bener, In. Gua harus terus terang sama dia?? wah malu dong!! dia kan kakak kelas.” Chika terlihat pesimis.

“Loe gimana sih, katanya minta nasehat ke gua tapi loe sendiri gak percaya ke gua, dah lakuin aja saran itu. Gua jamin lu sukses!!” Indri memantapkan hati Chika, yang masih terdiam dengan sejuta angan dikepalanya.

***

Bumi dipayungi langit yang berwarna hitam, tak ada cahaya terang disana. Hanya sekilas bulan yang mengintip disela-sela awan yang juga tampak malu untuk bersombong dimalam hari. Rengekan bayi dirumah sebelah terdengar jelas menemani kegundahan Chika yang mematut di depan cermin, memandangi wajahnya yang cantik jelita.

Lampu neon kamar, menemani suasana malam seorang Chika yang bimbang. Wajah bersih pangeran masih terbayang-bayang dihadapannya. Selalu menggoda setiap detik dalam setiap perjalanan menit. Chika tak mampu menghabiskan makan malamnya, karena jiwa yang terlalu jauh melayang menembus bayangan seorang lelaki yang diidamkan hatinya. Chika lalu merebahkan tubuhnya dikasur empuk. Sekuat tenaga memejamkan matanya, tapi bukan mata yang terpejam malah senyuman pengeran yang melambai-lambai menggoda jiwa menemani suasana malam yang semakin dingin.

Seperempat jam sudah Chika hanya membalik-balikan tubuhnya yang terawat bersih. Menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Masih dalam bayangan lelaki yang membuat dirinya tak bisa tidur. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai kusut. Hati Chika tidak bisa dibohongi lagi, dirinya telah jatuh cinta kepada Pangeran, jiwanya telah menyatu dengan pangeran. Tidak ada kata yang bisa mengungkap rasa cinta yang demikian dalam, dalam keresahan yang dalam ia tak sanggup untuk menyimpannya, sebuah buku yang terpajang dimeja belajar segera diambilnya. Menyusun kata dan kalimat sekedar melepas rasa rindu.

“Diaryku, malam ini aku benar-benar tidak bisa menahan asmara ini. Aku telah jatuh cinta, Diary!. Setelah sekian lama menanti seorang lelaki yang dapat membuat hati ini berbunga. Kini dia benar-benar menjelma dalam jiwaku. Hadir dalam hidup kita. Tapi, Diaryku. Aku tidak berani mengungkapkan semua rasa cintaku padanya. Dia teramat suci bagiku. Dia begitu indah, dan gagah. Aku tak berani mengatakannya. Aku telah terpenjara dalam indahnya cinta. Terpenjara dalam jeruji Pangeran.”

Chika kembali merebahkan tubuh anggunnya di kasur, memberanikan diri memejamkan matanya. Namun cinta sudah mengikat hati yang begitu lembut. Chika tidak mampu memalingkan buah cintanya. Kata-kata Indri terngiang ditelinga, membisikkan kekuatan cinta seorang gadis belia.

“Saran gua sih loe bilang terus terang aja sama dia, gua perhatiin dia juga ada perhatian sama loe.”

“Apa benar dia suka juga sama gua?”gumam Chika.

Hape Nokia type 2300 diambilnya, angannya masih bertanya-tanya. Kekuatan cinta yang membara semakin menggodanya untuk mengirimkan pesan cinta. Untuk mengabarkan berita besar sebuah kisah Romeo dan Juliet atau sekedar membisikkan tiga kata indah: Aku Cinta Kamu. Tapi, keberaniannya kembali hilang. Meletakkan kembali hapenya diatas meja yang bertumpuk buku pelajaran akuntansi.

“Aaaaaaaaaakh, apa yang harus gua lakukan?” hatinya berbicara keras ditengah-tengah kebimbangan jiwanya.

“Ya, Allah. Apa yang harus aku lakukan? Berilah petunjukmu. Aku hamba yang lemah, penuh dosa. Tapi, ya Allah hati ini telah di curi oleh hambaMu yang Sholeh, hambaMu yang senantiasa mencintaiMu. Apa yang harus aku lakukan?” dengan lirih Chika mendadak merangkai kata-kata doa kepada Dzat penggenggam jiwa.

Akhirnya, Chika menekan keypad Hape dan merangkai kata-kata yang telah terpendam selama ini.

“Pangeran, sebelumnya gua minta maaf sama loe. Atas ketidak sopanan ini, Pangeran, sejak tatapan mata loe di masjid. Jiwa gua tak bisa diam. Hati gua selalu berbisik akan diri loe. Gua mungkin terlalu cepat menyukai orang yang baru gua kenal, tapi hati gua tidak bisa di bohongi. Gua suka sama loe, gua Cinta benget sama loe. Hari-hari gua selalu diisi oleh bayangan dan senyuman loe. Loe mau kan menerima gua jadi kekasih loe? Balas. Please!! Dari: Chika.”

Dicarinya nomor hape Pangeran yang disave saat perbincangan di perpustakaan tempo hari. Dengan sejuta perasaan di tekanlah tombol. OK,(send)

***

Dari sebuah Hape pemuda yang sedang mengetik sebuah Novel cinta, terdengar nyaring. Suara dimalam hari memang terdengar keras, apalagi jam setengah dua belas. Suasana diluar sangat sepi. Dibacanya sms yang dikirim oleh seseorang, yang belakangan ini sangat dekat dengannya.

Setelah membaca sms hati pemuda yang tak lain adalah Pangeran, tidak tenang, ada asa yang mengharu biru. Namun, disisi lain ada perasaan takut yang teramat sangat. Perkenalannya dengan Chika beberapa minggu yang lalu membawanya kesebuah suasana yang mencekam, ada kebahagiaan namun di hantui rasa berdosa. Keinginan untuk mengajak adik-adik kelasnya dalam organisasi menjadi jalan tumbuhnya rasa suka, mendambanya dan mencintainya. Bahkan novel yang sedang dibuatnya menjadi hidup saat dia mengenal Chika.

Pangeran tidak langsung membalas sms Chika, pikirannya terbelah terpencar kesegala penjuru alam. Lalu dibukalah selembar kertas dari sebuah Rumah sakit. Hatinya tertunduk. Lalu menekan huruf demi huruf dalam hapenya, dan mengirimkan balasan ke nomor Chika.

“Chika, seandainya mentari pagi mampu berbisik. Cahaya rembulan bersedia mendongeng. Maka, hati yang kurasakan akan selalu disisimu. Sebenarnya aku memiliki rasa yang tidak pantas aku miliki. Aku juga menyukai kamu, sejak pandangan di masjid siang itu. Namun, aku tidak bisa mencintaimu dan menerima cintamu. Ada hal yang tidak kamu ketahui dan ada sesuatu yang belum bisa aku terima dari dirimu. Maafkan!!”

Pangeran lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur, memejamkan mata, membayangkan kehidupannya selama ini. Sudah dua tahun ia harus mengikuti perawatan dokter atas penyakitnya. Beberapa saat, ia tersenyum. Membayangkan kehidupannya jika sudah memiliki keluarga, dengan istri yang disisinya. Membina keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Sekilat ia membayangkan wajah cantik Chika ditutupi dengan jilbab seperti temannya Lely Nurhayati. Ia terbawa dalam dunia khayal yang tak bertepi, saat dirinya bersanding dipelaminan bersama Chika, saat malam-malam pertama dengan Chika, saat berpelukan mesra dengan Chika. Saat…

“Astaghfirullah….” hatinya berisitighfar keras saat khayalannya terlalu jauh.

***

Chika menghela nafas panjang, jiwanya terasa ada sesuatu yang merembes, sejuk. Ada sedikit kebahagiaan yang terbesit dalam hatinya. Walaupun dia masih tidak mengerti apa yang belum bisa diterima oleh Pangeran dari dirinya. Secepat kilat ia menekan keypad dan mengirim balasan.

“Pangeranku…, aku akan berusaha menjadi apa yang kau inginkan, semua perilaku yang biasa aku lakukan akan kuubah, gaya bahasa, tingkah laku dan apapun yang kau inginkan akan kuturuti. Asalkan aku bisa bersamamu. Dan berhak mencintaimu. Memangnya apa yang membuatmu aku belum bisa kau terima??”

“Chika, jika kau benar mencintai dan menyayangiku maka aku ingin kau seperti teh Lely, berjilbab lebar, rapi, sopan, lemah lembut, penyayang dan dewasa. Kamu bisa seperti itu?, namun ada juga sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan kepadamu.” Pangeran membalas sms Chika.

Seketika Chika terdiam, dia tidak langsung membalas sms pangeran. Meletakkan hapenya diatas meja belajar. Ingatan yang tertuju kepada sosok kakak kelasnya yang akhir-akhir ini terlihat dekat dengannya. Sosok wanita yang dari umur tidak jauh beda dengannya, namun, kedewasaan dan kesholehannya membuat setiap orang yang dekat dengannya kagum. Chika menjatuhkan dirinya di kasur empuk berwarna pink. Matanya berkaca-kaca, permintaan sang Pangeran baginya sangat berat, namun di sisi lain cinta dan kasih sayangnya sudah terpatri kepada pangeran yang membuat hatinya luluh.

“Seperti teh Lely?” gumamnya dalam hati.

Setelah malam itu Chika merenungi dirinya, menemui ustadzah di desanya dan bertanya banyak tentang busana muslim. Bertanya tentang arti hidup bagi seorang muslimah. Matahari beranjak dari timur kebarat. Waktu tak mampu di tahan meskipun sedetik. Ia berlalu bak anak panah yang telah dilepaskan dari busurnya.

“Pangeranku, kamu akan lihat seperti apa sekarang, Chika. Dengan niat ikhlas dan mengharap ridho dari Allah, aku sudah berubah!!. Hmm…, ternyata memakai jilbab lebar ini tidak seperti yang aku bayangkan, dulu aku kira memakai jilbab hawanya panas, tapi nggak juga. Subhanallah…, sejak aku naik Bis tidak ada tangan-tangan jahil yang biasa memegang tubuhku, walaupun dengan alasan mau lewat atau mau pindah tempat. Wah, malah aku sekarang dapat duduk, ada seorang bapak berjenggot memberikan tempat duduknya padaku, mungkin dia kasihan atau apalah. Pangeranku, sengaja aku tidak membalas sms dua hari yang lalu, karena aku ingin memberikan kejutan.”

“Neng…, kampus UIKA??” kondektur membangunkan lamunan Chika yang sepanjang perjalanan tersenyum membayangkan perubahan dirinya.

“O…, iya pak. Kiri…kiri…” Chika langsung beranjak dari tempat duduknya dan buru-buru keluar dari bis. Berjalan cepat masuk kedalam kampus. Mahasiswa disekeliling tampak memperhatikan dirinya yang rapi berbalut jilbab. Namun , dengan mantap Chika terus melangkah. Sejurus dia melihat arlojinya.

“Jam 8 kurang seperempat.” gumamnya, dan langsung menuju masjid berniat shalat Dhuha.

Dari kejauhan terlihat beberapa mahasiswa mengerumuni mading masjid, di sekretariat DKM beberapa aktifis terlihat berwajah muram, sekelompok lainnya nampak berbincang-bincang serius, tidak terlihat wajah manis disana, yang nampak wajah kesedihan. Mata Chika menembus semua tempat di masjid, memperhatikan orang-orang yang ada, siapa tahu pangerannya muncul. Tapi, tak kelihatan batang hidungnya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju Mading yang sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh mahasiswa yang sedari tadi membacanya. Lalu dia memelototi satu per satu pengumuman. Tidak ada yang luar biasa, hanya pengumuman yang sejak kemarin tertempel disitu. Tapi, saat matanya tertuju pada satu pamflet kuning jiwanya bergejolak, seakan tidak percaya apa yang dibacanya, ia eja satu per satu tulisan hasil print out itu.

Tubuhnya lemas, dadanya sesak. Dunia terasa berhenti. Ia ulangi lagi mengeja pamflet itu, siapa tahu dia salah baca, tapi tetap saja tertulis:

“Innalillahi wa innalillahi rajiun., Telah meninggal dunia, PANGERAN SASTRAWIJAYA, Mahasiswa FAI semester 5”

—TAMAT—

1 Response so far »

  1. 1

    milda eliya said,

    aqu ikut terharu setelah membaca artikel tsb,,cinta itu suci dan indah dan yakinlah bahwa cinta sejati itu ada,,walaupun raga itu hilang tp jiwa qita tetap menyatu,,,,cinta itu memang penuh pengorbanan


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: