Mimpi yang Mati

By : Nindy 

 

Seorang gadis memincingkan matanya, melihat sebuah taman yang indah. Entah apa yang dia rasa saat ini. Hatinya peluh, menjerit kesakitan. Kebahagiannya runtuh, mencabik sang angkara murka. Air matanya Menghiasi taman taman langit, sehingga menjulangkan sebuah pertanya. Mengapa dia begini???

            Dia berharap, disana akan ada hati yang bisa di sirami dengan dahaga kerinduan sang Rembulan……

“ah,,,,,,,” selalu……selalu setiap beberapa hela menit dia menghelakan nafasnya.

Dia mungkin merasa bodoh, anganya begitu tinggi. Angan tentangnya, yah….angan memiliki suatu yang lemah. Manusia yang tak pernah luput dari dosa, manusia yang hanya bisa bersandar pada Sang Pencipta. Dia merasa terkutuk, seketika dia mengerutkan keningnya.

“kenapa aku bisa begini?” selalu,,,pertanyaan itu yang ada diotaknya.

Tak henti bertanya pada dirinya sendiri, begitu bodoh pikirnya. Sejenak dia menghentikan tetesan air matanya yang tak terbendung lagi untuk tak jatuh dia taman mimpi. Karena keramaian kota membuatnya menahan itu semua. Lalu lalangnya manusia manusia dihadapanya, membuat dia kelu untuk menampilkan beberapa secercah kehidupanya. Sungguh dramatis.

            Sepoyan angin ditaman langit itu, membawa dia bersemayam pada mimpinya,

“ah,,,cinta, kasih saying, belahan jiwa dan belahan hati ku fikir hanya mimpi” gumamnya. Tak jauh, ya kebodohan itulah yang membuat dia semakin terpuruk.

            Cintanya hilang, sang kumbang berkhianat, dia telah pergi,,,,,cintanya musnah. Sungguh tak tau apa yang dia rasa. Setelah sang kumbang pergi, kehidupanya liar. Obat-obatan haram menjadi santapan setiap hari. Bersenggama dan bersetubuh dengan pria lain dijadikan kegiatan rutin setiap hari demi untuk sebuah materi. Dia sejenak berfikir, air matanya mulai mengalir, dan tak tahan dia bendung. Tak dihiraukan pula manusia-manusia yang sibuk dengan dirinya sendiri berlalu lalang dihadapanya. Dia mulai tersengguk, dia mulai menangis. Kebahagian adalah hal mustahil baginya.

            Perjalanan dia kemarin membuatnya membuka tabir cahaya. Indah…..sunggung indah,,,dia menemeui sesosok kawan lama, yang memang kebetulan saat itu berpapasan. Bagaikan dahaga seorang pengkelana dipadang Pasir.

 

“Linda….?”

“Aisyah….?”

Gadis yang dipanggilnya Aisyah itu memincingkan sedikit matanya, mungkin dia heran, melihat kawan lamanya bertubuh kurus, bermata sayup, bau alcohol ditubuhnya membuat gadis yang bernama Aisyah itu mual. Dia mulai menjauhkan dirinya dari tubuh Aisyah, ah….dia merasa bodoh sekali, dia merasa tak pantas mendekati gadis sesuci Aisyah.

Tapi apa yang dilakukan Aisyah? Dia memeluknya, erat….sungguh erat. Pelukan yang sangat dia rindukan. Hatinya hancur akibat pelukan itu,

 

“Aisyah…apakah tau betapa aku sangat merindukanmu” ucapanya begitu lirih.

“Linda, kemana saja kamu? Aku dan teman-teman yang lain mencarimu. Mungkin sudah dua tahun belakangan ini. Semenjak kamu pergi tanpa kabar” tutur Aisyah.

“Aku berada disetiap lorong-lorong malam yang senja, yang bertaburkan kemaksiatan, dan berbuahkan suatu dosa besar Aisyah” tukasnya.

 

Aisyah meneteskan airmatanya. Wajahnya terlihat peluh melihatnya. Cintanya begitu memancar merasakan getaran kegundahan dihatinya. Ya Rabb…betapa guncangnya Aisyah melihat sesosok gadis didepanya yang sedang membungkuk karena kesakitan.

 

“Linda, kamu kenapa?”

“Ngga, nggapapa kok”

“Linda, pliz jangan bohong. Kamu kenapa?’ Aisyah terisak menangis, dirinya bingung harus berbuat apa.

“ Aisyah, jika aku mati apakah kau akan menjenguk mayatku?” Tanyanya

“Lin, kamu bicara apa sih. Yuk, aku bawa kerumah sakit!” Ajak Aisyah sambil memegang tubuhnya yang begitu lemah, tulang-tulang nya pun Aisyah rasakan ketika membantu tubuh itu untuk memapah langkah demi langkah.

“Aisyah, adakah kesempatanku untuk memohon ampun kepada Pemilik diri ini?” pertanyaan aneh mulai keluar dari bibir tipisnya yang memerah dan mengering.

“Lin, Allah itu tak buta, Allah itu juga maha pengasih, Allah juga maha Pengampun kan Lin? Kamu yakin akan itu kan Lin? Udahlah Lin jangan berbicara yang aneh-aneh. Kamu butuh istirahat” Aisyah masih sambil memapah tubuh kurusnya menapaki langkah-langkah kecil.

“bawa aku ketaman langit disebrang sana yah Syah!” Pintanya sambil menatap Aisyah tanda memelas agar Aisyah mau untuk membawanya ketaman langit itu. Aisyah dibuat luluh oleh pancaran mata itu.

“Baiklah, sebentar saja yah, nanti langsung aku bawa kamu kerumah sakit” Aisyah membalas senyumnya.

 

            Sore itu seakan menjadi sebuah hari bisu. Dimana semua orang menjadi terdiam karena keangkuhan dunia, menjadi bisu karena kejamnya dunia fatamorgana. Dia terpukau, matanya masih mencari-cari sesosok senja yang bisa menghantarkan nya pada kenikmatan dunia. Matanya tertutup setelah melihat senja itu tiba.

Teriakan- teriakan berseriak ditelinganya, tangisan bergemuruh sejajar dengan ombak yang berkejar-kejaran dilaut lepas. Matanya telah tertutup. Ternyata angan nya masih melanglang buana. Dia melanglang buana dengan masa lalunya kemarin, hari ini dan esok.

4 Tanggapan so far »

  1. 1

    Ali Ogi S said,

    Kekurangan telah di sempurnakan. Kata-kata yang lugas dan mengalir. S I P. ‘Tidak ada dosa yang tak termaafkan selain menyia-nyiakan waktu.’ RasululLoh saw. Mungkin itu kesimpulan yang tepat untuk cerita Nindy.

  2. 2

    ahmad_rifa'i said,

    wah untung ada linda. jadi selamet deh aisyahnya.

  3. 3

    hamidah said,

    ini toh gammafunky.
    sebagian posting di sini diambil sebagai buletin dakwah di sekolah saya.

  4. 4

    Gamma said,

    iya.. silahkan diambil aja..

    afwan klo blh tw skul Hamidah di mana yak..


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: