Kado Untukmu…..

Saat kusapa terasa dalam kurasa, saat ku sebut sangat padat kurajut, saat bersama terasa sejuk bak selimut sutra di syurga. Saat kau jauh,…Dipelupuk selalu terhias namun tak bisa terbayang. Dihati selalu terukir namun tak terpatri. Dirasa selalu ada namun tak menyatu. Belum bisa kubayangkan dirimu dalam kesendirianku, tapi selalu menghiasi dalam detik renungan.
Tak bisa bila lama berpisah, terasa hampa bila tak ada disisi. Kita itu sendiri tapi berdua dan kita berdua itu pada dasarnya sendiri.

Di hari bertambahnya jumlah usia, dihari pengurangan jatah menghirup nafas, dihari kedewasaan makin bertambah, smoga juga menjadi hari bertambahnya keimanan.

Selamat….
“Selamat dan Salam untuk semua amal baik yang telah dilakukan dengan spenuh hati dan penuh keihlasan. Selamat untuk dosa yang telah sirna menghiasi hari-hari. Selamat untuk bertambahnya iman dan ketakwaan”.

Smoga hari-hari berikutnya lebih indah, lebih nyaman, lebih tentram, lebih mengasyikan dan lebih bertambah keihlasan. Dalam bertindak, dalam beribadah dalam meniti jalan; sebagai ibu dari anak-anak yang bertanggung jawab atas waktu, kesempatan, harta, akhlak mereka saat suami tidak dirumah. Sebagai istri dalam pengabdian dan mendampingi suami. Sebagai anak dalam berbakti kepada orang tau. Sebagai kakak yang selalu menyayangi adik-adiknya dan sebagai seorang muslimah yang selalu mengemban dakwah di setiap kesempatan.

Kado…
Ku takbisa memberikan sekuntum mawar merah sebagai lambang cinta seperti kebanyakan orang, karena bunga akan layu saat tidak disiram atau kering saat terkena matahari. Ku takmau saat jauh, cinta kita layu karena jarang disirami dengan pertemuan. Ku tak mau saat beratnya ujian hidup menjadikan layu cinta ini, seperti layunya bunga kena terik matahari.
Ku tak bisa berikan emas berlian atau benda duniawi, karena ku tak mau kita bermewahan yg menjadikan lalai pada tujuan utama kita diciptakan. Atau membuat sombong pada sesuatu yang sebenarnya hanya titipkan Allah pada kita.
Ku hanya bisa memberikan kado “ Maaf “ dan “ Syukur”

Maaf…
Maafkan aku habibahku…
Belum bisa mencintaimu sepenuh hati seperti pecinta sejati. Yang mampu menjaga mata, pikiran, perasaan dan hati yang tercermin dalam perilakuku. Seperti cintanya Rosulullah kepada umatnya, beliau tiada henti mendo’akan umatnya untuk tetap beriman pada Allah. Memintakan ampunan atas dosa-dosa umatnya dan ingin bersama-sama disyurga dengan umatnya. Atau seperti cintanya Allah pada hambannya. Yang selalu memafkan semua dosa-dosa hambanya yang memohon ampunan. Yang tetap memberikan rizqi walaupun umatnya sering melupakannya. Yang tak memilih tempat, waktu dan keadaan dan tak kenal lelah Allah menjaga seluruh alam seisinya.

Maafkan aku…
Belum bisa mesra pada dirimu dan anak-anak kita…
Seperti mesra Rosullallah yang selalu mencium mesra dan membelai lembut anak-anak Beliau seperti yang dilakukannya terhadap Fatimah. Sering kali mengecup kening Aisyah istri tercinta Beliau denga mesra saat membangunkan sholat malam.
Maafkan aku,…
jarang sekali kau dengar panggilan sayang dan sapaan hangat menghiasi hari-harimu bersamaku? Yang ada hanya kata-kata perintah dan ocehan ekspresi kekesalan. Bak raja dengan budaknya, bak majikan dengan pembantunya.

Maafkan aku…
Belum bisa diri ini menjadi ayah dan contoh baik yang selalu menyayangi anak-anak dengan penuh kasih. Tak seperti rosullullah yang mampu mengajari dan mencintai istri-istri tanpa sedikitpun melukai perasaannya, sehingga istri-istri rosul teramat mencintai belau atas nama Allah.

Maafkan…
aku belum bisa memberikan kecukupan penghidupan dari rizqi yang halalan thyibah. Yang mampu menyehatkan jasmani dan rohani kita sehingga menjadikan rajin dan semangata untuk beribadah pada Allah.

Syukur….alhamdulillah
Telah dipertemukan istri yang sangat mengerti diriku, dengan segenap kekuranganku. Selalu mengingatkanku saat khilaf dalam ucapan dan tindakanku. Selalu menghiburku dalam duka dan kegelisahan. Istri yang selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga dalam pergaulan dan bermasyarakat.

Kumohon…
Seiring waktu yang terus berganti, uban yang terus bertambah, kulit yang beranjak berkerut. Tidak menjadikan semangat beramal sholeh luntur ditelan waktu dan luntur di selimuti kesibukan.

kumohon,..
jadikan cambuk pengingat diriku untuk membawa biduk kita dan perahu rumah tangga kita bisa langgeng sampai di akherat kelak. Jangan sampai satu dari kita dan keturunan kita terpisahkan dan masuk dineraka.

Kumohon,..
Warnai kesibukan kita mengurusi keluarga selalu terselip waktu untuk mengurusi agama Allah. Karena “intansurullaha yan surkum wayutsabit aqdamakum” barang siapa yang menolong agama Allah maka Allah akan menolong kita. Kita sangat butuh pertolongan Allah baik didunia maupun diakherat. Karena amal kita yang hanya sedikit tak sanggup untuk bekal masuk syurga jika tanpa pertolongan Allah.

Kumohon,…
Bantu aku untuk mengemban amanah Allah dalam surat attahrim ayat 5, “ jaga diri dan keluargamu dari siksa api neraka…” aku sayang anak-anak, aku sayang dirimu. Akulah yang pertama akan ditanya Allah tentang apa yang talah kuperbuat untuk keluargaku, dari mana rizqi yang kudapat dan untuk apa dibelanjakan, sudahkan anak dan istriku dibimbing untuk beriman pada Allah. Aku ingin kita selalu bersama hinga di syurga kelak. Amin yarobbal ‘alamin.

Jakarta,14 Mei 2007
yang selalu menyayangimu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: