Problema Khitan Perempuan

Problema Khitan Perempuan
Oleh:”aziziqalbii”

Khitan bagi perempuan merupakan permasalahan Pro dan Kontra dalam masyarakat dewasa ini, banyak terjadi pertentangan diantara para Ulama khususnya, Dokter dan Pemuka adat umumnya, sehingga jangan mengherankan bila terjadi kesenjangan di masyarakat Global sekarang.
Banyak kalangan kurang mengetahui apa itu Khitan, walaupun kata”khitan” merupakan tidak asing bagi kita, apalagi sebagai Muslim hampir semua mengalami Khitanan, namun secara detil tidak kita ketahui, nah marilah kita jenguk kembali arti pengertian khitan menurut Fuqaha,.

Apa itu Khitan?
Khitan bagi laki-laki adalah memotong kulit Zakar yang menyeliputi Khasyafah(kepala zakar).

Khitan bagi perempuan adalah memotong sebagian kulit paling bawah diatas Vagina, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami, banyak masyarkat dunia melakukan Khitan pada perempuan berbeda-beda: hanya sebatas membasuh ujung klitoris; menusuk ujung klitoris dengan jarum; membuang sebagian klitoris; membuang seluruh klitoris; dan membuang labia minora (bibir kecil vagina) serta seluruh klitoris, kemudian hampir seluruh labia majora (bibir luar vagina) dijahit, kecuali sebesar ujung kelingking untuk pembuangan darah menstruasi, tapi dalam islam disunatkan untuk tidak berlebihan, sehingga ia tetap mudah merasakan kenikmatan seksual. dan membuang seluruh klitoris, membuang labia minora serta seluruh klitoris bertentangan( mukhalafah) dengan sunnah, dan khitan beginilah yang sangat terkenal dimasa Fir’aun, berbeda dengan khitan yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Khitan dalam Kacamata Fuqaha’:

Mazhab syafi’iyyah:
Khitan wajib bagi laki-laki dan perempuan, sebagai dalilnya: ayat Al-Quran:

“Kemudian kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti millah Ibrahim yang lurus” (An-Nahl: 123).
Sebagian dari Millah Nabi Ibrahim adalah tradisi Khitan.

Juga hadist:
“Potonglah rambut kufur darimu dan berkhitanlah” (As-Syafii dalam kitab Al-Umm yang aslinya dari hadis Aisyah Riwayat Muslim).

Mazhab Hambali:
Khitan wajib bagi laki-laki, dan memuliakan bagi perempuan, dalilnya adalah hadist Ahmad dan Baihaqi:

“Khitan itu sunah buat laki-laki dan memuliakan buat wanita” (Ahmad dan Baihaqi).

Mazhab Maliki dan Hanafi:
Sunat Muakkadah bagi laki-laki dan perempuan, dalilnya: Dari Anas Ibn Malik R.a, bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada Ummu Athiyyah, tukang khitan perempuan di Madinah: “Sentuhlah sedikit saja dan jangan berlebihan, karena hal itu adalah bagian kenikmatan perempuan dan kecintaan suami.”

Hadist yang lain disebutkan:

“Sayatlah sedikit dan jangan berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.” (HR Abu Daud)(1)

Secara kwalitatif hadits yang menjadi dasar perlunya khitan perempuan menurut Sayid Sabiq adalah lemah, dengan kritikan tajam didalam kitabnya Fiqh Sunnah: “Semua hadits yang berkaitan dengan khitan perempuan adalah dhaif (lemah), tidak ada satupun yang sahih (valid).(Fiqh al Sunnah, I/25), Dengan demikian secara ex officio bisa dikatakan khitan perempuan merupakan masalah ijtihadiyah, nah kerusakan sebuah mujtama’ bisa disebabkan oleh faktor ini(khitan), karena perempuan yang melakukan khitan(menurut islam) sexnya sedikit berkurang dengan perempuan yang tidak melakukan khitan, oleh karena itu bisa menyebabkan konflik didalam masyarakat, dengan banyaknya pelanggaran tata susila agama, karena tidak semua wanita bisa menahan gelora nafsunya, maukah masyarakat kita hancur?, maukah keturunan kita menjadi hamba nafsunya?, benarlah apa yg dinukilkan oleh Imam al-Syathibi dalam al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah mengatakan syariat Islam bertujuan mewujudkan kemaslahatan manusia, di
dunia dan akhirat. Cita kemaslahatan dapat direalisasikan jika lima unsur pokok dapat terpelihara, yaitu pemeliharaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Khitan perempuan antara Kedekteran dan Agama:

1.Banyak orang salah mengerti tentang praktek khitan perempuan dalam islam sehingga dengan cepat menvonis bahwa Khitan perempuan bisa merusak hak perempuan, lihatlah dua buah hadist Nabi secara detil: Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada Ummu Athiyyah, tukang khitan perempuan di Madinah: “Jangan berlebihan, karena hal itu adalah bagian kenikmatan perempuan dan kecintaan suami.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Sentuh sedikit saja dan jangan berlebihan, karena hal itu penyeri wajah dan bagian kenikmatan suami.” (HR Abu Daud),

Ada dua pendekatan dalam memahami hadis di atas. Pertama, dilihat dari asbab al-wurud hadist. Sebelum Islam datang, masyarakat Arab terbiasa mengkhitan perempuan dengan membuang seluruh klitoris dengan alasan agar dapat mengurangi kelebihan seksual perempuan, yang pada gilirannya dapat memagari dekadensi moral masyarakat Arab ketika itu. Sewaktu Nabi mendengar Ummu Athiyyah mengkhitan dengan cara demikian, Nabi langsung menegur agar praktik khitannya harus diubah sebab dapat menimbulkan kurangnya kenikmatan seksual perempuan.

Kedua, redaksi (matan) hadist terdapat ungkapan isymii wa laa tunhikii (sentuh sedikit saja dan jangan berlebihan). Kata isymam, secara etimologis, berarti mencium bau. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Nabi Muhammad SAW memerintahkan khitan perempuan dengan cara seperti halnya mencium bau sehingga tidak merusak klitoris. Sedangkan kata laa tunhikii merupakan lafaz larangan (al-nahy) yang bermakna pasti, artinya “pastikan jangan berlebihan”. Dengan demikian secara teks dapat dipahami, Nabi tidak pernah memerintahkan khitan dengan merusak alat reproduksi. Justru sebaliknya, khitan yang diajarkan Nabi diharapkan dapat memberi keceriaan, kenikmatan, dan kepuasan seksual bagi perempuan. Menurut Islam, hak memperoleh kepuasan seksual antara lelaki dan perempuan sama. Artinya, kepuasan dan kenikmatan seksual adalah hak sekaligus kewajiban bagi suami dan istri secara parallel. Oleh karena itu, jangan sampai karena praktik yang keliru lalu secara serta-merta tradisi indah yang
bernilai ibadah dan beresensikan simbol ikatan suci dengan Allah itu diperangi begitu saja. Sebaiknya dicarikan jalan tengah, substansi khitan dipertahankan namun praktik kelirunya yang dihindari. Penawaran ini pada gilirannya menjadi tugas para ulama, dokter, dan kita semua untuk meluruskannya.

2. Bila khitan perempuan dilakukan sebagaimana yang telah nabi syaria’tkan, maka banyak manfaatnya bagi wanita dan suaminya, diantaranya: mencegah pertumbuhan klitoris yang terlalu besar, sebagian wanita pertumbuhan klitorisnya berlebihan sampai 3 cm ketika perempuan teransang, bagaimana suami bergaul dengan istrinya bila si istri punya anggota seperti anggotanya?
Dan perempuan didaerah yang panas seperti Sa’idi Mesir, Sudan dan Jazirah Arab pertumbuhan klitorisnya cukup subur sehingga melebihi dengan pertumbuhan pada perempuan daerah lain, bahkan menyebabkan suami mustahil untuk melakukan hubungan denganya.

3. mencegah klitoris yang terlalu besar dan mencegah sakit pada vagina karena keseringan tegaknya klitoris akibat gesekan, dan wajah perempuan selalu berkerut, seperti dinukilkan hadist: “Sentuh sedikit saja dan jangan berlebihan, karena hal itu penyeri wajah dan bagian kenikmatan suami.” (HR Abu Daud),

4. Khitan yang dilakukan oleh orang Mesir kuno yaitu: memotong suluruh klitoris dapat menyebabkan melengketnya kedua bibir vagina yang dapat menyebabkan penyakit Ritak(tersumbat) .

5. Doktor. Muhammad Ali Al-Bar didalam kitabnya “al-Khitan Dar Al-Manar ” berkata: “Khitan perempuan menghilangkan nafsu dan libido perempuan yang tinggi, dengan demikian si perempuan lebih iffah dan mencegah bersarangnya kuman yang berkumpul dibawah Kulit Klitoris”.

Khitan perempuan antara masyarakat Internasional dan peradaban manusia:

Delegasi 28 negara Arab dan Afrika yang diadakan diCairo meminta agar khitan terhadap perempuan dilarang secara internasional. Khitan dipandang selaku kebiasaan yang rohani maupun jasmani menimbulkan dampak sampingan parah pada perempuan. Ada dua juta gadis remaja yang mengalami mutilasi tiap tahun di Afrika dan beberapa bagian dunia Arab, walaupun beberapa dari negara Afrika seperti Mesir sudah melarang praktek khitan perempuan.

Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dimuat di majalah buletin Population Report, banyak terjadi komplikasi akibat khitan bayi perempuan di negara-negara Afrika, seperti infeksi dan adanya fistula pada daerah yang dilakukan penyunatan.
Apakah ini khitan yang disyari’atkan islam ataukah khitan menurut kebiasaan masyarakat afrika? Dengan membuang seluruh klitorisnya. Dan WHO melarang khitan perempuan.

Para antropolog mengungkapkan data praktek khitan telah populer di masyarakat Mesir kuno dibuktikan dengan penemuan mumi perempuan pada abad ke-16 SM yang memiliki tanda clitoridectomy (pemotongan yang merusak alat kelamin). Menurut Hassan Hathout pelaksanaan khitan perempuan telah berlangsung lama sebelum kedatangan Islam terutama di lembah Nil yakni Sudan, Mesir, dan Ethiopia.

DiBelanda, dilarang keras khitan perempuan, sehingga terpaksa para anak perempuan keturunan Muslim dari Mesir, Somalia dan Sudan melakukan khitan diluar Belanda, bahkan bagi para wali yang melakukan khitan bagi anak perempuannya dikenakan hukuman 5 tahun penjara.

Hikmah Khitan:
1. Mubalghah dalam kebersihan dan kesucian.
2. Membedakan antara muslim dan non Muslim, sehingga bila hakim melihat disuatu daerah para laki-laki tidak melaksanakan khitan, maka mereka harus diperangi agar melaksanakan Syi’ar Islam,
3. Praktik khitan bagi perempuan sebagai kontrol terhadap seksualitas perempuan, dengan demikian tercipta masyarakat dengan lingkungan jauh dari praktek maksiat.
4. Ta’at akan perintah Allah dan Rasulnya.
5. Perempuan menjadi lebih iffah, sehingga terpelihara diri dan agamanya.

Madhan:
1. Figh Islami wa adillatuhu:4/ 2752, Syarah Kabir:2/126, Syarah Risalah:1/393.
2. Fiqh al-Sunnah, Sayid Sabiq.
3. Al-Muwafaqah fi Ushulk Syari’ah, Imam Syatibi.
4. Fatawa Mu’asarah, Syeh Yusuf Qardhawi.
5. Mughni:1/85

21 Tanggapan so far »

  1. 1

    Redaksi said,

    Assalamualaikum Wr.wb. sobat Aziziqolbi thank’s banget atas artikelnya. moga dapat bermanfaat bagi sobat gamma yang lain, jazakumulullah khoiron katsiro.(redaksi Komunitas Gamma, funky tapi syar’i n gaul tapi islami)

  2. 2

    irmayani said,

    assalamu’alaikum sahabat GAMMA saya irma, bagaimana sy bisa bergabung dalam kumpulan sahabat-sahabat GAMMA?
    trimakasih.

  3. 3

    Redaksi said,

    waalaikum salam warohmatulallahi wabarokatuh,Sobat Irmayani. makasih atas silaturahminya. salam taaruf dari kami. kalo berkumpul lewat darat, kita masih kita ada di bogor dengan aktifitas dakwahnya. tapi sobat Irma bisa berkumpul /bergabung lewat dunia maya (internet)dulu dengan mengirim karya-karya or menyampaikan apa yang telah sobat baca dari blok kami ke sobat lainnya. andai sobat Irma ada di bogor dengan senang hati bergabung bersama kami berjuang bersama… (salam taaruf dari redaksi)

  4. 4

    Saladinxc said,

    Aduh.. rumit.. dah jadi masalah internasional lagi… susah kalo udah ada emansisapi emansisapiinya.. pada ga mau denger..

  5. 5

    ass,wr,wb…….
    saya masih belum mengerti tentang khitan bagi perempuan..

    ada pada bagian (kemaluan) wanita itu yang disebut bibir vagina (yang menonjol dan berbentuk sperti sayap kupu#. apakah itu yang di khitan atau klitoris yang terdapat pada bagian dalamnya?

    ada beberapa keterangan yang mengatakan bahwa bibir vagina-lah yang di khitan dan ada juga klitoris yang di khitan. tapi saya tidak tahu yang mana yang benar, mohon petunjuknya………….

  6. 6

    Ahmed said,

    Salaams,

    Great article. Here’s another interesting and informative article on the subject:

    There exist many ahadith or sayings of the Prophet to show the important place, circumcision, whether of males or females, occupies in Islam. Among these traditions is the one where the Prophet is reported to have declared circumcision (khitan) to be sunnat for men and ennobling for women (Baihaqi). He is also known to have declared that the bath (following sexual intercourse without which no prayer is valid) becomes obligatory when both the circumcised parts meet (Tirmidhi). The fact that the Prophet defined sexual intercourse as the meeting of the male and female circumcised parts (khitanul khitan, or in some narrations khitanain ‘the two circumcised parts’) when stressing on the need for the obligatory post-coital bath could be taken as pre-supposing or indicative of the obligatory nature of circumcision in the case of both males and females.

    Stronger still is his statement classing circumcision (khitan) as one of the acts characteristic of the fitra or God-given nature (Or in other words, Divinely-inspired natural inclinations of humans) such as the shaving of pubic hair, removing the hair of the armpits and the paring of nails (Bukhari) which again shows its strongly emphasized if not obligatory character in the case of both males and females. Muslim scholars are of the view that acts constituting fitra which the Prophet expected Muslims to follow are to be included in the category of wajib or obligatory.

    That the early Muslims regarded female circumcision as obligatory even for those Muslims who embraced Islam later in life is suggested by a tradition occurring in the Adab al Mufrad of Bukhari where Umm Al Muhajir is reported to have said: “I was captured with some girls from Byzantium. (Caliph) Uthman offered us Islam, but only myself and one other girl accepted Islam. Uthman said: ‘Go and circumcise them and purify them.’” More recently, we had Sheikh Jadul Haqq, the distinguished head of Al Azhar declaring both male and female circumcision to be obligatory religious duties (Khitan Al Banat in Fatawa Al-Islamiyyah. 1983). The fatwa by his successor Tantawi who opposed the practice cannot be taken seriously as we all know that he has pronounced a number of unislamic fatwas such as declaring bank interest halal and questioning the obligation of women wearing Islamic headscarves.

    At the same time, however, what is required in Islam, is the removal of only the prepuce of the clitoris, and not the clitoris itself as is widely believed. The Prophet is reported to have told Umm Atiyyah, a lady who circumcised girls in Medina: “When you circumcise, cut plainly and do not cut severely, for it is beauty for the face and desirable for the husband” (idha khafadti fa ashimmi wa la tanhaki fa innahu ashraq li’l wajh wa ahza ind al zawj) (Abu Dawud, Al Awsat of Tabarani and Tarikh Baghdad of Al Baghdadi). This hadith clearly explains the procedure to be followed in the circumcision of girls. The words: “Cut plainly and do not cut severely” (ashimmi wa la tanhaki) is to be understood in the sense of removing the skin covering the clitoris, and not the clitoris. The expression “It is beauty (more properly brightness or radiance) for the face” (ashraq li’l wajh) is
    further proof of this as it simply means the joyous countenance of a woman, arising out of her being sexually satisfied by her husband. The idea here is that it is only with the removal of the clitoral prepuce that real sexual satisfaction could be realized. The procedure enhances sexual feeling in women during the sex act since a circumcised clitoris is much more likely to be stimulated as a result of direct oral, penile or tactile contact than the uncircumcised organ whose prepuce serves as an obstacle to direct stimulation.

    A number of religious works by the classical scholars such as Fath Al Bari by Ibn Hajar Asqalani and Sharhul Muhadhdhab of Imam Nawawi have stressed on the necessity of removing only the prepuce of the clitoris and not any part of the organ itself. It is recorded in the Majmu Al Fatawa that when Ibn Taymiyyah was asked whether the woman is circumcised, he replied: “Yes we circumcise. Her circumcision is to cut the uppermost skin (jilda) like the cock’s comb.” More recently Sheikh Jadul Haqq declared that the circumcision of females consists of the removal of the clitoral prepuce (Khitan Al Banat in Fatawa Al Islamiyya.
    1983).

    Besides being a religious duty, the procedure is believed to facilitate good hygiene since the removal of the prepuce of the clitoris serves to prevent the accumulation of smegma, a foul-smelling, germ-containing cheese- like substance that collects underneath the prepuces of uncircumcised women (See Al Hidaayah. August 1997). A recent study by Sitt Al Banat Khalid ‘Khitan Al-Banat Ru’ yah Sihhiyyah’ (2003) has shown that female circumcision, like male circumcision, offers considerable health benefits, such as prevention of urinary tract infections, cystitis and other diseases affecting the female reproductive organs.

  7. 7

    indrayati said,

    trimakasih atas infonya. saya kini jadi lebih dpt memahami perbedaan pendapat tsb. semoga kamu tetap eksis ya….. slamat berjuang….

  8. 8

    Ola said,

    My brother recommended I might like this blog. He used to be totally right.
    This submit truly made my day. You cann’t consider simply how much time I had spent for this information! Thank you!

  9. 9

    Sonia said,

    Thanks for the auspicious writeup. It in fact used to be a leisure account
    it. Glance complicated to more added agreeable from you!
    By the way, how can we keep in touch?

  10. 10

    Rosemarie said,

    I’ll right away take hold of your rss as I can’t in finding your email subscription hyperlink
    or newsletter service. Do you have any? Please let me understand so that I may
    subscribe. Thanks.

  11. 11

    Hi I am so delighted I found your blog page, I really found you by mistake,
    while I was searching on Aol for something else, Nonetheless I am here now and would just
    like to say many thanks for a incredible post and a all round
    enjoyable blog (I also love the theme/design), I don’t have
    time to read it all at the minute but I have book-marked it
    and also included your RSS feeds, so when I have time I will be back
    to read more, Please do keep up the awesome jo.

  12. 12

    If you are going for best contents like I do, just visit this web
    site all the time as it provides quality contents, thanks

  13. 13

    Hey there! I’ve been following your blog for a while now and finally got the bravery to go ahead and give you a shout out from Houston Texas! Just wanted to say keep up the fantastic work!

  14. 14

    Hello to all, the contents present at this site are in fact awesome for people experience,
    well, keep up the nice work fellows.

  15. 15

    What’s up it’s me, I am also visiting this website
    daily, this website is truly good and the users are really sharing fastidious thoughts.

  16. 16

    Highly energetic post, I liked that a lot. Will there
    be a part 2?

  17. 17

    Hello Dear, are you really visiting this web site
    on a regular basis, if so then you will absolutely obtain pleasant knowledge.

  18. 18

    live sexs said,

    Hello would you mind letting me know which hosting company you’re utilizing? I’ve loaded your blog in 3 completely different internet browsers and
    I must say this blog loads a lot faster then most.

    Can you suggest a good internet hosting provider at a reasonable price?
    Thanks a lot, I appreciate it!

  19. 19

    I almost never leave comments, however i did some searching
    and wound up here Problema Khitan Perempuan | Gamma Funky tapi
    Syar\’i. And I actually do have a few questions for you if you usually do not mind. Could it be only me or does it look as if like some of the comments come across like left by brain dead folks?😛 And, if you are writing on additional online social sites, I would like to keep up with anything new you have to post. Could you list of all of your community sites like your Facebook page, twitter feed, or linkedin profile?

  20. 20

    Plastic surgeon salary New Jersey

    Problema Khitan Perempuan | Gamma Funky tapi Syar\’i

  21. 21

    in the know said,

    in the know

    Problema Khitan Perempuan | Gamma Funky tapi Syar\’i


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: