Ibu Jangan Tinggalkan Aku…

..Diruang ICU, seorang ibu berusia 50-an dalam kondisi koma karena penyakit TBC yang dideritanya. Sementara diluar ruangan sedang duduk gadis berambut pirang (pewarna rambut) dengan dandanan baju kurang bahan, nampak terisak tangis, sesekali menghelai nafas panjang. Terdengar suara lirih dari bibir yang menahan tangis itu…” Ibu ….jangan tinggalkan aku….” sambil jemarinya mengusap air mata terus mengalir. Gadis itu Farida namanya yang sedang duduk dibangku kelas Dua SMU. Nampak penyesalan terpancar dari raut mukanya. Penuh pengharapan agar ibunya sehat kembali.Ia menyesali semua kelakuhan yang telah diperbuat pada ibunya. Alhamdulillah, nampaknya Allah telah membukankan mata dan hatinya tatkala ibunya dalam keadaan koma.

Sobat, saat dipenghujung perjalanan hidup ibunya. Barulah Farida sadar bahwa orang tau adalah orang yang berhak mendapat penghormatan tertinggi setelah Allah. Dan berbuat baik kepada Orang Tua hukumnya wajib.Siapapun orang tua kita, apapun pekerjaannya, apapun agamanya, dimanapun tinggalnya, berapapun umurnya, bagaimanapun tingkah lakunya, de el el. Beliaulah yang membuat kita hadir di Alam ini. Beliau yang merawat dan membimbing kita hingga jadi seperti sekarang ini. Nikmat yang paling panyak kita terima setelah nikmat dari Allah adala nikmat dari kedua orang tua kita. Wajarlah kalau kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua kita mendapat posisi kedua setelah beribadah kepada Allah.

“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun.Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak”. (Qs. An-Nisa:36).

Sebaliknya kedurhakaan anak terhadap kedua orang tuanya mendapatkan posisi di nomor dua dalam urutan Dosa Besar, setelah dosa menyekutukan Allah. Wah sobat agaknya perlu kita bahas mendalam nih tentang cara berbakti pada ortu kita. Jangan-jangan, tanpa kita sadari ada perbuatan kita yang dikategorikan perbuatan durhaka atau tidak taat pada Ortu.

Apa yang harus kulakukan…

Sobat nggak usah bingung mesti bagaimana perlakuan kita terhaap ortu. Allah sudah memberikan aturannya dalam Alqur’an . QS. Al-Israa:23-24;

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan
`ah` dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: `Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.

Dari ayat diatas, jelaslah bahwa kita diperintahkan (wajib) untuk beribadah kepada Allah dan hanya Allah yang kita sembah tidak ada tuhan lain kecuali selain Allah. Dan juga kita diperintahkan (wajib) untuk berbuat baik pada kedua orang tua. Cara kita berbuat baik kepada kedua orang tua kita seperti yang telah disebut dalam ayat diatas ,adalah :

? Tidak berkata “ah”

Sobat, biasanya kata “ah” muncul karena apa? Ngaku aja deh!. Masih inget, saat asyik nonton sinetron, ibu menyuruh cuci piring, sobat menjawab “nggak mau ah capek”. waktu itu ngerjain PR matematika, pas memet-mumetnya e..ayah muter musik dangdut kenceng, terus sobat ngedumel marah dalam hati, “Ah, ganggu aja, berisik ”.

Kata “ah” biasanya muncul karena sesuatu sikap atau perbuatan dari orang tua kita yang kurang kita senang. Namun demikian tak pantaslah kalau kita membencinya walaupun hanya sebatas kata-kata “ah”. Berlaku sabar dalam menghadapinya merupakan pilihan terbaik. Rasanya belum seberapa kesabaran kita tersebut jika dibandingkan dengan kesabaran orang tua dalam merawat dan mendidik kita di waktu masih kecil hingga sekarang. Beribu kesabaran penuh pemaafan yang telah mereka ikhlaskan dalam menghadapi tingkah laku kita.

? Tidak menghardik atau membentak

Menghardik atau membentak maksudnya mengeluarkan kata-kata kasar saat kita “tidak sependapat” atau “menolak pendapat” atau “menyalahkan pendapat” orang tua kita. Tidak sepantasnya (dosa besar) kita sebagai anak menghardik atau membentak kedua orang tua kita. Sehingga menyebabkan orang tua terlukai hatinya, naudzubullah.

? Berkata-kata dengan perkataan yang mulia

Sobat, orang tua disamping sebagai bapak/ibu kita, kadang sebagai guru dan sahabat kita. Dalam kondisi apapun, baik senang, marah, kesal, de el el. Kalimat yang kita ucapkan dihadapan orang tua kita haruslah perkataan yang mulia.Kata-kata yang diucapkan dengan penuh khidmat dan hormat, yang menggambarkan etika kesopan-santunan dan penghargaan yang penuh terhadap keduanya.

? Mentaati perintahnya dengan ikhlas

Mentaati perintah orang tua dengan ikhlas selama perintah itu tidak bertentangan dengan hukum syara’ merupakan keharusan. Ketaatan kita merupakan wujud kasih sayang kita pada keduanya. Nah, dengan rajin sekolah apalagi berprestasi itu wujud konkrit berbakti kita pada orang tua. Sebaliknya kalo kita hobi mbolos, jam belajar nongkrong diwarung, dan kasus-kasus lainya yang membuat orang tua sobat resah en sakit hati. Berarti sobat telah melakukan dosa besar pada ortu.

? Meminta izin kepadanya

Abdullah bin Amr meriwayatkan :Sesungguhnya telah datang seorang laki-laki kepada Nabi saw meminta izin kepadanya, agar diperbolehkan ikut berperang bersamanya, lalu Nabi bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”. Orang laki-laki itu menjawab: “Ya”. Nabi bersabda: “Pulanglah kamudan minta ijinlah kepada orang tuam, jika mengijinkan, berperanglah kalu tidak, cukup kamu berbuat baik /berbaktilah kepada kedua orang tuanmu”. (HR. Bukhari).

Sobat jelaslah sudah dari hadist tersebut. Jadi kalo hari gini kalo masih ada yang pergi sembunyi-sembunyi takut ketahuan ortu, udah ngak musim deh!. Apa yang kita lakukan mesti ngedapetin restu dari ortu kita. Jangan nylonong “terserah gue”. Memang semua sobat yang ngejalanin semua keputusan yang sobat pilih. Tapi ingat kita telah diperintahkan Allah untuk berbuat baik pada kedua ortu kita. Apakah sobat nggak takut sama Allah?. Sobat masih inget, sabda Rosululah s.a.w yang ngetren banget.

“ Keridhaan Allah itu lantaran keridhaan orang tua, dan murka Allah itu lantaran murka kedua orang tu” (HR.Bukhari).

Sobat, masih mendingan kita melangkah menjalankan keinginan orang tua walaupun sebenarnya kita tidak suka, dari pada kita melangkah mengikuti keinginan kita sementara orang tua tidak rela. Amal kita berbakti pada ortu merupakan amal yang paling baik kedua setelah sholat lima waktu. Sabda rosulullah yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud;

Saya bertanya kepada Rasulullah saw: “Amal yang manakah yang paling dicintai Allah dan Rasul Nya?”. Rasulullah menjawab: “Melakukan salat pada waktunya”. Saya bertanya: “Kemudian amal yang mana lagi?” Rasulullah menjawab: “Berbuat baik kepada kedua ibu bapak.” (H.R. Ibnu Mas’ud)

Ortu Sudah Tiada..

Sobat, orang tua itu paling pemaaf untuk anak-anaknya. Sebesar apapun kesalahan yang telah kita perbuat, dengan rendah hati dan ikhlas ortu memafkan kita. Kadang sebelum kita meminta maaf ortu udah memafkan kita. Sebaliknya, kadangkala kita yang tak tahu diri, egois tak tahu berterima kasih kepada kedua ortu kita. Orang tua juga manusia biasa kadang punya kesalahan pada kita. Sedikit kesalahan ortu terhadap kita yang belum tentu itu salah, mungkin hanya penilaian kita saja karena tidak sesuai dengan keinginan kita yang akhirnya kita anggap salah, padahal menurut Allah belum tentu salah. Kita serng tidak terima, bahkan ada yang sampai dendam berkepanjangan. Ngak mau kita menyapa ortu kita, kita cemberut padanya. Sobat, tak sepantasnya kita berbuat demikian dengan orang yang dipercaya Allah untuk mengurusi kita. Kedua orang tua kita adalah tangan kanan Allah, sampai-sampai ridho dan murka Allah ada pada ridho dan murka orang tua kita.

Sobat, mumpung Orang tua masih ada di alam yang sama dengan kita. Mumpung masih bisa tersenyum dan menyapa kita. Mumpung belum telat sobat. Mumpung malaikat pencabut nyawa belum mencabut nyawa orang tua kita, mumpung mereka belum terbujur kaku dalam pembaringan panjang. Yo’ kita kita bersimpuh dikakinya sambil mencium tanganya, mengakui semua kesalahan dengan tulus. Dan berjanji untuk berbuat baik kepada keduanya. Sebagai tanda kecintaan dan ketaatan kita kepad Allah.

Sobat, jika orang tua sobat yang udah di alam barzah. Dan kita belum sempat bersimpuh mengakui segala kesalahan kita. Tak ada guna kita menangis merengek diatas pusaranya walaupun sampai air mata kita mengering. Atau menabur bunga setaman sebagai balasan atas kesalahan kita masa lalu dengannya. Semua sudah terlambat, waktu tidak bisa diputar kembali dimasa lalu.

Sobat, jika itu terjadi. Hadapkan wajah kita dihadap Allah yang mengatur jagat raya dan isinya. Mintalah ampunan Allah atas dosa besar kita karena telah tidak berbakti kepada orang tua kita. Dan berbaktilah kepada orang tua kita yang telah tiaa seperti yang rosululah ajarkan.

“Bahwa Rasulullah saw, ditanya: Masih adakah kebaktian kepada kedua orang tuaku, setelah mereka meninggal dunia?. Rasulullah saw menjawab: “Ya, masih ada empat perkara, mendoakan ibu bapak itu kepada Allah dan memintakan ampun bagi mereka, menunaikan janji mereka, menghormati teman-teman mereka serta menghubungkan tali persaudaraan dengan orang-orang yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan kamu kecuali dari pihak mereka. Maka inilah kebaktian yang masih tinggal yang harus kamu tunaikan, sebagai kebaktian kepada mereka setelah mereka meninggal dunia”. (H.R. Ibnu Majah)

Setelah orang tua kita tiada, kita masih harus berbakti kedanya dengan cara ;
Mendokannnya; Do’a anak yang sholeh mampu menembus alam barzah yang pahalanya mengalir selalumenyertai oran ua kita dalam tidur pajangnya di alam barzah. Sehingga ampunan Allah atas dosa-dosa orang tua kita saat masih hidup masih terbuka. Sebesar apapun dosa orang tua kita saat itu jika Allah berhendak menerima doa ampunan yang kita panjatkan untuki nya insaAllah Allah bisa dimaafkan oleh Allah.

Menunaikan Janjinya; Janji atau nadzar adalah hutang yang wajib dibayar olehnya. Walaupun yang bernadzar atau berjanji telah meninggal, tetap dihitung hutan oleh Allah. jika tidak dibayar sampai hari kiamat maka amal baiknya yang dijadikan jaminan untuk membayarnya. Sebagai tanda kebaktian kita pada orang tua kita kita boleh menunaikan janji aytau nadzar orang tua kita.

Menghormati teman orang tua saat masih hidup; Orang-orang yang menjadi sahabat orang tua kita saat masih hidup harus kita hormati. Menghormati bisa berarti tidak menghina, tidak melupakannya dan memperlakukan dengan baiak. Alangkah indahnya bila kita sanggup menjalinya kekeluargaan dan ikatan silaturahmi dengan sahabat-sahabat ortu kita.

Menyambung silaturahmi keluarga orang tua; Keluarga orang tua merupakan orang-orang yang masih ada hubungan darah dengan ortu kita. Seperti kakak dari ortu kita, adik dari ortu kita, keponakan ortu ita dll. Pada dasarnya keluarga ortu juga keluarga kita juga, jadi sudah sewajarnya kita juga menyambung silaturahi pada mereka. Selain kewjiban sebagai sorang muslim juga sebagai wujud berbuat baik kita pada ortu kita.

Menentang Ortu…

Menentang perintah orang tua jika perintahnya tidak bertentangan dengan aturan islam merupakan dosa besar. Tetapi jika perintah ortu bertentangan dengan aturan islam,maka “wajib ditolak”.

Saad Abu Waqqas, ia berkata: “Tatkala aku masuk Islam ibuku bersumpah bahwa beliau tidak akan makan dan minum, sebelum aku meninggalkan agama Islam itu”. Untuk itu pada hari pertama aku mohon agar beliau mau makan dan minum, tetapi beliau menolak nya dan beliau tetap bertahan pada pendiriannya. Pada hari kedua aku juga mohon agar beliau mau makan dan minum, tetapi beliau malah tetap pada pendiriannya. Pada hari ketiga aku mohon kepada beliau agar beliau mau makan dan minum, tetapi beliau tetap menolaknya. Karena itu aku berkata kepadanya: “Demi Allah, seandainya ibu mempunyai seratus jiwa, niscaya jiwa itu akan keluar satu persatu, sebelum aku meninggalkan agama yang aku peluk ini”. Setelah ibuku melihat keyakinan dan kekuatan pendirianku, maka beliaupun makan”. Kisah ini yang melatarbelakangai muncul Firman Allah;

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Q.S.Luqman:15)
Kita mesti rela berkorban demi kepentingan keduanya. Baik korban harta benda sampai korban perasaan sekalipun. Sobat, alangkah besar pahala kita jika orang tua kita yang udah tua en pikun yang punya keinginan dan tingkah laku seperti anak balita hidup bersama-sama kita. Kita rawat dan kita layani dengan keihlasan dan penuh kasih sayang. Kita curahkan sebagian waktu kita untuk menyenangkan hati keduanya, sehingga ibu/bapak selalu tersenyum saat bersama-sama kita

Kadang kita merasa sudah dewasa, merasa anak modern dan merasa yang kita lakukan adalah benar. Nasehat dan wejangan ibu kita anggap angin lalu. Kadang kita mebentak dan berkata kasar walau dalam hati. Mungkin kita pernah merasa nggak PeDe kalau ada teman berkunjung kerumah dan memperkenalkan ibu atau ayah kita, karena malu rumah kita sederhana dan jauh dari kota. Tak imbang dengan gaya dan mode yang kita tunjukan pada temen-teman. Ibu dan ayah yang tua berwajah desa, dengan penampilan sederhana apa adanya. Sangat bertolak belakang dengan perilaku kita yang selalu bertingkah serasa anak gedongan yang bergelimang kekayaan.

Sobat, mumpung semua belum terlambat, kesempatan untuk mencium tangan dan mohon maaf pada ortu masih terbuka. Pintu do’a ortu mumpung masih belum terkunci. Kita harus sadar betul bahwa ridhonya Allah tergantung pada ridho kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua ortu kita. Yo’ kini saatnya kita berusaha berbuat baik kepada kedua ortu kita. Apa saja yang bisa kita perbuat untuk ortu kita. Kita senangkan hatinya dan tidak membuat luka dalam hatinya. Walau kita tidak bisa memberi harta atau kemewahan dunia. Cukuplah kita membuat keduanya tersenyum dan mendoakan untuk meraih syurga.

Belajar dari “Ismail “…

Sobat, kisah Nabi Ismail saat kecilnya tatkala ayah beliau Ibrahim as mendapatkan wahyu dari Allah untuk menyembelih anak semata wayang itu. Dengan tegar demi kecintaan dan ketaatanya kepada Allah Ibrahim menyampaikan perintah tersebut pada ismail yang saat itu berusia 13 tahun, seperti yang tertulis dalam surat Ass-shaffat : 102.
“ …Wahai anakku. Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, bagaimana pendapatmu…. “

Sobat, kira-kira nih! Kalo kita yang ditanya kaya’ gitu gimana ngejawabnya?…jangankan disembelih, baru dimarahin aja yang jelas-jelas kita salah. Weh,…udah ngak mau makan seharian….(tapi kalo ortu lagi meleng santap habis tuh makanan..).

Sobat, ternyata ismail yang masih belia menjawab dengan jawaban yang mengharukan sang ayah Ibrahim.
“ Wahai ayahku! Laksanakan apa yang telah diperintahkan Allah kepada ayah. Engkau akan menemuiku insaAllah sebagi anak yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu; pertama: sebelum meyembelihku, ikat erat-erat diriku agar aku tidak banyak bergerak yang bisa menyusahkan ayah dalam menjalankan perintah Allah, kedua: ayah, tanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang bisa mengurangi pahalaku dan bisa membuat ibu bersedih bila melihatnya, ketiga: tajamkan pisaunya ayah, dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaan dan rasa sakit yang kurasa. Dan terakhir: ayah, sampaikan salamku pada ibu, tolong berikanlah pada beliau pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihannya dikala merindukanku, dan sebagai tanda mata serta kenang-kenangan terakhir dari dariku.

Mendengar jawaban itu, Ibrahim langsung memeluk dan menciumnya . Ibrahim tak sanggub menahan air mata karena terharu dan rasa bangganya. Ibrahim memeluk erat dengan penuh cinta, sambil mengatakan.
“ Bahagialah aku mempunyai seorang anak yang taat pada Allah, baktipada orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan diri untuk melaksanakan perintah Allah”.

Sobat, perintah Allah diatas segala-galanya. Kecintaan Ismail kepada ayahnya merupakan wujud cintanya kepada Allah. maka disaat Allah memerintahkan ayahnya (Ibrahim) untuk menyembelih dirinya, dengan ihklas ismail kecil menjalankannya. Itulah wujud ismail berbakti kepada ayahnya dan wujud ketaatan kepada Allah sembahannya, walaupun harus menyerahkan nyawa.

Sobat, kalo dibandingkan antara kewajiban berbuat baik kita terhadap ortu dengan jerih payah dan pengorbanan yang dikeluarkan orang tua kita sejak kita mulai hadir didalam perut ibu sampai sekarang ini tidak lah sebanding. Sobat, coba kita renungkan; saat kita dalam perut ibu di usia kandungan tiga bulan pertama, hari-hari selalu mual, muntah, makan tak enak, sering kali kepala ibu pening, kadang ada yang sampai ibu tak bisa makan dan harus masuk rumah sakit. Selama sembilan bulan kita didalam perut menghisap darah ibu. Ketika mau lahir, ibu bertaruh nyawa antara hidup dan mati. Derita sakit yang tiada terperi dengan simbahan darah akhirnya kita lahir. Saat tangisan bayi terdengar hilanglah sudah rasa sakit yang dirasa ibu, satu persatu jari kita dibelai. Dalam hati ibu berharap “ kelak kamu akan jadi anak sholeh nak! Berbakti pada ibu bapak, dan membanggakan keluarga”. Sobat, sudahkah kita memenuhi harapan orang tua kita?. Tetesan keringat yang dikeluarkan orang tua kita untuk merawat dan menyekolahkan kita sampai sekarang, tidak perlu kita kembalikan dalam wujud uang atau sejenisnya saat kita udah mampu nanti. Orang tua tidak butuh balas jasa, tidak butuh balas budi, tapi mereka mengaharapkan kita jadi anak yang soleh solehah yang berakhlak mulia. Yang mampu membahagiakan orang tua dengan keluhuran akhlak kita dan mendokan saat mereka telah tiada didunia lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: