BENARKAH SAYA LULUS UJIAN ?

Ujian Nasional (UN). Ya… itu yang ditunggu sekaligus yang dicemaskan sobat kelas tiga. Apa lagi detik-detik pengumuman kelulusan. Perasaan mereka Harap-Harap Cemas. Mengaharapkan pengumuman namun cemas kalo nggak lulus ujian. Gimana nggak cemas! Kalo nggak lulus bakalan diputusan cinta ama do’inya….ya! gitu aja ko’ repot.

Sobat, Ujian kudu ada en harus dilewati. Jangan pernah kalah sebelum bertanding alias ngeper duluan. Lulus ato belum lulus itu nomor dua, yang penting semua proses telah dijalanin dengan sungguh-sungguh. Misal, udah belajar abis-abisan, udah berdo’a sepanjang malam, udah minta do’a ama semua teman, en udah makan sampai kenyang…weh, nggak nyambung!. Ternyata bisa lulus dengan nilai gemilang (Alhamdulillah). Jika nggak lulus, ya bersabar dan tetep tawakal. Yang jelas Allah sudah punya rencana dengan perjalanan hidup kita. Kadang sesuai dengan rencana kita kadang beda. Kita mesti ngejalanin tanpa berputus asa. Yakinkan diri kita, bahwa Allah akan memberikan pilihan yang terbaik untuk kita. Sobat, ternyata banyak kisah yang terjadi pada sobat kita, setelah menerima informasi kelulusan. Diberitakan dalam layar kaca, setelah mendapat informasi kalo mereka lulus, sekelompok remaja pria melakukan pelecehan seks terhadap wanita yang melewati mereka. Sekarang kelompok itu sedang menjalani penanganan hukum dari kepolisian. Ada yang pesta minuman keras, sampai teller. Sambil “ ajug..ajug…” dalam gemerlapnya lampu diskotik. Norak amat ya, cara mengekpresikan kegembiraannya!

Sedangkan yang tidak lulus. Tersiar kabar, ada yang bunuh diri beberapa saat setelah membaca surat pengumuman kelulusan. Ada juga yang nekat membakar sekolah, sukurlah hanya sebagian kecil ruangan yang terbakar karena keburu di halau oleh petugas sekolah. Pengeroyokan terhadap guru juga terjadi karena mereka menganggap guru tersebut yang tidak meluluskan. Waduh, cilaka…tenan! Kalo mental generasi remaja sekarang seperti itu. Apa jadinya Negara kita, agama kita di masa datang. Apa nunggu Allah memusnahkan generasi ini dan mengganti generasi baru yang lebih baik. Ketika mendapat keberhasilan bukan sujud syukur pada Allah, e….malah berbuat maksiat. Dan yang di uji tidal lulus bukan bersabar dan mengoreksi diri, malahan putus asa. Inilah ciri remaja nggak “GAUL”.

Hidup ini Ujian!

Sobat, mana ada kisah perjalanan hidup yang mulus-mulus aja. Saat melangkah melewati lautan akan berhadapan dengan ombak dan badai. Berjalan diangkasa akan dihadang awan tebal, badai dan petir, dan melangkah di daratan-pun akan bertemu dengan lubang dan jurang. Sobat, tiada pilihan lain kecuali terus melangkah, berpacu dengan waktu yang kian lama mengurangi jatah hidup kita. Kalo sobat lain mampu terus melangkah, walaupun cobaan tiada henti? Tapi mengapa ada yang menyerah walaupun cobaan itu nampak relatif ringan. Mungkinkah ada yang salah! Ada apa dengan kita?

Semua kejadian selalu memiliki makna (Hikmah). Hikmah merupakan ilmu yang hilang, yang boleh dimiliki semua orang yang menemukannya. Tapi hanya orang-orang yang menggunakan akal-sehatnya dalam mensikapi semua kejadian-lah yang mampu menemukan hikmah itu.

Sabda Rosullallah SAW,” Hikmah itu barang hilang milik orang beriman, Dimanapun didapatkan ia adalah orang yang paling berhak atasnya” (HR.At-Tirmidzi)

Sobat Gamma, ujian kehidupan yang kita hadapai merupakan bukti perhatian Allah pada kita. Wujud cinta Allah kepada hambanya. Kalo kita mampu menghadapinya dengan sabar dan rela menerimanya, InsaAllah kita akan menjadi kekasih-Nya. Rosullallah pernah berpesan,” Sesungguhnya jika Allah akan mencintai sekelompok kaum maka di ujilah mereka. Barangsiapa yang rela menerimanya maka baginya adalah kerelaan (Keridhoan) Allah SWT. Dan barang siapa murka (tidak terima) maka baginya adalah kemurkaan dari Allah” (HR-At-Tirmidzi).

Semakin jelas sekarang. Bahwa lulus dan tidak lulus, naik dan tidak naik kelas, sakit dan sehat, bahagia dan sedih, banyak duit dan sedikit duit, de el el, semua merupakan ujian Allah. Kalo kita menjadi orang yang dicintai Allah, maka harus rela menerima semua itu. Tapi ingat kalo kita menghadapinya dengan marah-marah, kecewa, apalagi sampai menyalahkan Allah. Kalo Allah itu tidak adil, pilih kasih, de el el, berarti Allah juga murka dengan kita, naudzubillah.

Jangan Terlalu Gembira, Sobat!

Kadangkala manusia sering terbawa emosi. Pada saat mengalami kegembiraan mengekpresikannya sangat berlebihan, sampe’-sampe’ menodai hakekat kegembiraan itu sendiri, yaitu keberhasilan sesuatu yang dikehendaki. Coba sobat tengok kembali perilaku sebagian temen yang lulus ujian kemaren. Harusnya bahagia, e.. malahan jadi duka. Tentu sobat masih inget. Kalo semakin tinggi ilmu mestinya semakin tinggi iman-nya. Yang dibuktikan dengan meningkatnya amal-amal sholeh. Ekspresi kegembiraan sebagian temen kita yang kebablasan tadi, apakah disebut amal sholeh?..tentu tidak!
Kalo boleh kita menyebutnya, bagi sobat kita tersebut “lulus tapi belum berhasil “. Ya, mereka lulus Ujian Nasional, tapi belum berhasil menjadi orang yang dijanjikan Allah. Janji-Nya telah jelas dalam Alqur’an,

“ Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat, (QS. Al-Mujadillah:11).

Tapi mengapa ya! Sepertinya sebagian sobat kita, atao malah kita sendiri. Tidak ada penambahan ibadah. Malah yang terjadi semakin bertambah jenjang pendidikan atau bertambah kelas, bukan semakin banyak amal sholeh tapi malah sebaliknya…balik sendiri ya!….jadi malu’. Yo’ kita intropeksi diri. Apa ada yang salah dengan proses belajar kita selama ini. Mungkin kita belajar bukan berniat mencari ilmu, terus cari apa? Ya, mungkin karena temen-temen kita pada sekolah, jadi malu jika nongkrong dirumah aja. Kini saatnya kita meluruskan niat. Anak sekolah hanya satu tujuan “mencari Ilmu”. Agar ilmunya bermanfaat, maka cara mendapatkan ilmu harus yang jujur. Boleh punya nilai tinggi asal dengan kejujuran. Dari pada nilai rendah dengan tidak jujur, lebih baik nilai tinggi tapi jujur!..tul, nggak!.. Mau nggak sobat disebut “naik kelas tapi belum berhasil?”

Jangan Terlalu Bersedih, Sobat!

Sobat, Ujian Nasional (UN) bukan akhir dari perjalanan hidup. Sehingga, kalo nggak lulus dunia jadi kiamat. Kalo gitu, jika lulus terus dunia ngak jadi kiamat, dong!..ngaco…
UN bukan penentu hidup dan mati. Lantas, kalo nggak lulus bunuh diri.UN bukan satu-satu penentu keberhasilan belajar. Justeru, sobat yang nggak lulus. Kemudian bersabar dan intropeksi diri serta semakin mendekatkan diri pada Allah. Dengan keyakinan penuh. Allah telah memberikan pilihan terbaik untuk kita. Jalan masih panjang, langkah belum berakhir dan dunia tidak selebar daun kelor. Dibalik kegagalan akan datang keberhasilan. Luaarrr.. biasaaa..ini baru Sobat Gaul dan dinyatakan berhasil sekolahnya. Allah lebih mencintainya daripada sobat yang lulus tapi belum berhasil.

Sobat, mungkin masih inget pesan Allah, “ Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya,” ( QS. At-Thaghabun:11).

Semua kejadian yang ada pada diri kita murni kehendak Allah. Apa yang diusahakan manusia sejatinya bagian dari kehendak Nya. Walaupun demikian kita tidak boleh pasrah tanpa usaha. Jika kita tidak mampu melakukan banyak hal, paling tidak kita rela (Ikhlas dan ridho) menjalani kehendak-Nya. Biarkan roda terus berputar, jikalau sekarang kita sedang dibawah maka tak lama lagi kita akan berubah menggapai keatas. Kita perlu ingat waktu itu tidak diam. Waktu bukan hanya hari ini saja, tapi masih ada hari esok. Yang telah kita lakukan walaupun sebiji zarah-pun tetap punya arti. Hamparan harapan masih terbentang luas, belum putus tali yang menggantungkan cita-cita kita. Maka, jangan kita putuskan tali itu dengan keputus asaan akibat emosi yang menguasai.

Ulama besar Imam Asy-Syafi’i pernah memberikan nasehatnya,” Biarkan hari-hari bertingkah semaunya, jadikan dirimu ridho terhadap ketentuan-Nya. Jangan takut peristiwa semalam, karena peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang abadi “.

Yo’ Kita Menyongsong Masa Depan….

Sobat, memang betul. Kita nggak boleh gembira yang berlebihan, juga nggak boleh bersedih yang berlebihan. Jadi inget kata Emak,” Nak, jangan banyak ketawa nanti jadi menangis. Dan jangan takut menangis, nggak lama lagi kamu akan ketawa”. Ternyata , Emak nyontek dari Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hadid:23,
“ Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu.

Bagi sobat yang teluh lulus. Persiapkan untuk langkah selanjutnya. Kalo masih bisa studi lanjut dan ortu sanggup biaya, teruskan aja. Tapi kalo ortu nggak mampu, tetep simpan niatmu untuk studi lanjut sambil cari aktifitas yang menghasilkan modal untuk belajar. Nah, sobat yang udah siap dilamar atau melamar, kenapa takut! Tapi inget, jangan hanya modal cinta doang lo!

Jangan sampe sobat setelah lulus hanya bengong momplong. Yo’ kumpul-kumpul yang bermanfaat. Masa muda sangat banyak yang bisa kita perbuat untuk peningkatan kualitas diri baik ilmu maupun iman. Bagi yang belum lulus, pintu masih terbuka untuk mengulang ujian. Jangan pernah minder dan rendah diri. Dimata Allah tidak ada yang lebih rendah kecuali orang-orang yang tidak beriman.

(‘Athaya)

1 Response so far »

  1. 1

    Yusni said,

    Ass..,

    Tolong do’ain ya,
    biar tahun ini sy bs lulus UN.

    Klo bs smua yg lagi ujian LULUS 100%

    Amin.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: