Arsip untuk Desember, 2007

Aku Ingin…… BEBAS!!!

Hai guys! lagi Bete ya? Udah bosen dikelas, pingin cepet pulang! Kalo udah begitu badan jadi rasa gatel-gatel ye… (emang lo lagi kudisan kali!) bukan lagi kudisan tapi lagi korengan, huh ! parah lagi. Rasanya bebas kalo denger bunyi, teeeetttt…..teeettttt……..cihuiii bel pulang telah berbunyi. Gamma kalo disekolahku itu bukan bel pulang, tapi bel masuk kelas. Wah, ya udah kamu masuk lagi aja (he..he..). ok deh apa pun bunyi bel nya, taaaat …taaat lah, tuuut…..tuuut lah, tooot…..toootlah, tiiiit…sekali aja takut ada yang tersinggung, pokoke pulang. Perasaan bahagia tak tertutupi lagi. Ada yang langsung berlari keluar, ada yang teriak assyiiiik…dengan beribu anganan dalam benaknya. Ada yang ngebayangin makana enak dirumah. Ada yang bahagia karena udah janjian ama seseoran sehabis pulang sekolah. Namun, pada kenyataannya bayangan indah itu tidak semua tercapai, malah kadang sebaliknya. Kebebasan yang sobat bayangkan saat suntuk dikelas akan berakhir saat bel pulang berbunyi. Padahal sejatinya kebebasan tersebut tidaklah lama kita rasa, sesaat kemudian kan hadir problema baru kan menghampiri. Heh…kok binun, paham gak mangsudnya.

Gini sobat ternyata perasan bebas pulang sekolah harus kadang berakhir saat tiba dirumah. Atau bahkan belum sampai rumah perasaan bebas tersebut udah dihampiri masalah baru. Misal, tadi waktu masih dikelas ngebayang makan enak pake sambel trasi, lalapannya daun-daun yang masih suegeer, misal daun jendela yang baru dibikin. Weleh…ngaco emangnya kita rayap doyan kayu. Sambil nonton TV acara faforite, pokoke enak deh! Tapi…namun…ternyata, udah kelamaan, waktu lihat meja makan…eng ing eng…hanya ada nasi putih seorang diri tak ada yang menemani. Saat mau ambil piring, jreeeeng. Semua piring masih belum mandi alias masih kotor belum dicuci. Maklum sobat, emak sibuk ngurusin adik yang lagi sakit. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Akhir sebuah Cinta


By : Kang Sum

Kain Putih yang menutupi rambut Chika melambai-lambai tertiup angin saat duduk di serambi masjid al-Hijri UIKA Bogor selepas shalat Dzuhur. Suasana masjid yang sejuk membawa hati dan fikiran terasa tenang dan tentram. Chika tidak langsung beranjak pulang setelah dua mata kuliahnya berakhir, sangat sayang jika dia buru-buru pulang tanpa bercakap-cakap terlebih dahulu dengan teman kuliah barunya, Indri.

Dari dalam masjid sepasang mata misterius tampak memperhatikannya, sosok pemuda dengan sorot mata tajam penuh kesejukan, rambut tertata rapi dengan baju koko putih yang dipakai sangat serasi dengan wajahnya yang bersih bercahaya.

“Hey…, Chika!! Liatin siapa sih loe? serius amat!” Indri mengagetkan Chika yang sedang asyik membalas jauh tatapan sesosok pemuda yang sekilat telah pergi entah kemana.

“Ah elu, In. ngagetin aja! Eh…In, tadi ada Cowok ngelitain gua terus lho… Wah, ganteng banget In, serius!!” Chika membalas dengan ceria dan memainkan kerlingan matanya yang putih.

“Huh, Ge-er aja loe! Sudah ah, kita ngobrolnya di Shelter, sambil nunggu bis Rudi.” Indri mencubit pinggang Chika dan beranjak pergi meninggalkan Chika yang sedang mengaduh kesakitan bercampur geli.

Chika mengikuti Indri, berjalan disampingnya dan saling menceritakan pengalaman hidupnya. Bercerita tentang hal yang tidak pernah diduga oleh manusia, sesuatu yang terkadang luput dalam ingatan, walaupun hanya sekedar untuk diingat.

Hari berlari dalam dekapan sang malam, berkejaran dengan manusia-manusia pencari dunia. Semuanya berjalan seperti hembusan nafas yang datang pergi silih berganti, semua jiwa merangkak mengejar hari yang penuh cinta. Mendamba kebahagian dan keindahan surga. Semua manusia selalu saja disemayamkan benih-benih cinta, merembes kedalam hati menyejukkan jiwa.

Sejak hari itu Chika merasa ada sesuatu yang tersembunyi dalam hatinya, tatapan mata pemuda di masjid membuat dirinya merasa penasaran, siapa gerangan sosok pemuda itu. Tatapan matanya dirasa benar untuk dirinya, bukan untuk orang lain. Baca entri selengkapnya »

Komentar (1) »